
Sebuah tempat, jauh dari bising, jauh dari hiruk-pikuk, kota yang ganas, sunyi, merenung, bersimpuh, tahajud, tenggelam dalam sepi. Menunggu sunset berjalan ke barat.
Ketika rindu ada yang menangis, cinta, sakit, hujan, GERIMIS, daun jatuh, mimpi, orang-orang kalah, tersaing, terasing, terkucil, terpanggang terik, matahari, gelap, lelah dan sebagainya berbaur dalam petualangan kata, menjadi sebuah keraguan dan tak pernah henti untuk bertanya.
Ketika malam, jauh, di atas langit, menggores, memaknai, larik-larik luka, perih, seakan membakar sang petualang, yang terjerembab, bersama kabut. PEMAKAMAN menjadi tempat terindah dalam diam. Sementara ruang kosong dalam hati itu tak lagi terisi, hanya sebuah lubang hitam dan kelam.
Ketika jaman, asing, berkutat dalam labirin, waktu, menjadi sosok, gugur, bersama sampah, debu, metropolitan, terkapar dalam hujan musim ini, bersama diam dan juga MIMPI. Tak lagi ada matahari yang menyembul dari balik kabut.
Hanya maaf menjadi telaga dan savana sesunyi Kalimati, dan tak ada lagi kabar tentangmu.
Selamat bertualang.
Kembali ke halaman muka
Orang biasa yang bergelut dengan hal-hal biasa. Mencoba untuk menuangkan gagasan, ide dan karya dalam sebuah media.



















Tinggalkan sebuah Komentar